Inti dari gerakan pengabdian ini adalah Sosialisasi Baca Tulis yang dikemas secara kreatif dan menarik bagi dunia anak. Mempelajari huruf dan angka seringkali dianggap membosankan jika dilakukan dengan metode konvensional yang kaku. Oleh karena itu, Manarofa menggunakan pendekatan bermain sambil belajar (play-based learning). Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai pentingnya stimulasi literasi di rumah. Tim pengajar menjelaskan bahwa kemampuan membaca bukan hanya soal mengeja, melainkan proses memahami makna yang akan menjadi kunci bagi anak dalam mempelajari mata pelajaran lain di sekolah nantinya.
Target sasaran dari program ini adalah Anak-Anak Sekitar yang tinggal di lingkungan sekitar sekolah atau madrasah. Dengan menyasar lingkungan terdekat, program ini menjadi lebih intim dan berkelanjutan. Setiap sore, ruang-ruang kelas atau halaman terbuka sekolah disulap menjadi taman bacaan yang hangat. Anak-anak diajak untuk mengenal huruf melalui nyanyian, permainan kartu kata, hingga dongeng interaktif yang memancing rasa ingin tahu mereka. Fokusnya adalah menumbuhkan rasa cinta pada buku, sehingga membaca tidak lagi dianggap sebagai beban tugas, melainkan sebagai jendela petualangan yang menyenangkan dan penuh keajaiban.
Dalam program Manarofa, para siswa tingkat atas juga dilibatkan sebagai mentor bagi adik-adik di lingkungan sekitar. Hal ini memberikan dampak ganda: anak-anak merasa lebih nyaman belajar dengan kakak kelas yang usianya tidak terpaut terlalu jauh, sementara para siswa belajar tentang kesabaran, teknik komunikasi, dan rasa tanggung jawab sosial. Pengalaman mengajar ini menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa yang empati dan peduli terhadap kemajuan intelektual lingkungan sekitarnya. Mereka diajarkan bahwa ilmu yang mereka miliki baru akan benar-benar berkah jika diamalkan untuk membantu orang lain yang membutuhkan bimbingan.
Selain aspek teknis membaca dan menulis, Sosialisasi Baca Tulis ini juga menekankan pada pentingnya literasi digital dasar bagi anak-anak. Mengingat saat ini anak-anak sudah sangat akrab dengan gawai, Manarofa memberikan arahan tentang cara menggunakan perangkat tersebut sebagai media belajar, bukan hanya untuk hiburan semata. Orang tua dibekali pengetahuan untuk mendampingi anak dalam memilih konten bacaan digital yang edukatif dan sesuai dengan usia mereka. Dengan sinergi antara literasi konvensional dan literasi digital, anak-anak sekitar diharapkan memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern yang serba cepat.