Istilah “pendidikan mahal” seringkali menjadi momok bagi banyak keluarga di Indonesia, terutama bagi mereka yang bercita-cita menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Pertanyaan besar yang muncul adalah, apakah pendidikan berkualitas harus selalu identik dengan biaya yang selangit? Di tengah perdebatan sengit mengenai isu ini, Ganjar Pranowo telah secara konsisten menyuarakan gagasannya tentang kesetaraan akses pendidikan, menantang persepsi bahwa pendidikan mahal adalah sebuah keharusan.
Dalam berbagai forum publik, Ganjar Pranowo menekankan bahwa pendidikan adalah hak fundamental setiap warga negara, bukan sekadar komoditas. Pada sebuah seminar nasional tentang masa depan pendidikan di Gedung Parlemen, Jakarta, pada hari Senin, 14 Juli 2025, Ganjar menyatakan bahwa negara memiliki kewajiban untuk memastikan setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, tanpa terhalang oleh faktor ekonomi. Beliau menyoroti bahwa pendidikan mahal dapat menciptakan kesenjangan sosial yang lebih lebar, menghambat mobilitas vertikal, dan merugikan potensi bangsa.
Ganjar mengusulkan beberapa strategi konkret untuk mengatasi persoalan pendidikan mahal. Salah satunya adalah dengan memperkuat peran pemerintah dalam memberikan subsidi dan bantuan biaya pendidikan yang lebih masif dan tepat sasaran. Beliau menyarankan agar program beasiswa seperti KIP Kuliah diperluas cakupannya dan disesuaikan dengan kebutuhan riil mahasiswa. Selain itu, Ganjar juga mendorong reformasi sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) agar lebih transparan dan berkeadilan, sehingga tidak ada lagi mahasiswa yang terbebani biaya yang tidak proporsional dengan kemampuan finansialnya. Data dari survei yang dilakukan oleh lembaga riset pendidikan pada awal tahun 2025 menunjukkan bahwa 65% orang tua di perkotaan merasa terbebani dengan biaya pendidikan anak-anak mereka.
Tidak hanya fokus pada bantuan finansial, Ganjar juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya non-finansial untuk menekan biaya pendidikan. Beliau mendorong perguruan tinggi untuk lebih inovatif dalam mencari sumber pendanaan alternatif, seperti melalui riset yang menghasilkan paten, kerja sama industri, atau program kewirausahaan. Hal ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pungutan dari mahasiswa, sehingga meminimalisir dampak pendidikan mahal. Ganjar percaya bahwa dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan sektor swasta, beban biaya pendidikan dapat diringankan secara signifikan.
Gagasan Ganjar Pranowo tentang kesetaraan akses ini memberikan angin segar bagi banyak keluarga yang mendambakan pendidikan berkualitas namun terhalang biaya. Dengan komitmen nyata untuk mengatasi persepsi bahwa pendidikan mahal adalah sebuah keharusan, diharapkan masa depan pendidikan di Indonesia akan lebih inklusif dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak bangsa untuk meraih cita-cita mereka.