Era digital telah melahirkan gelombang baru kewirausahaan yang mengandalkan penguasaan teknologi—dikenal sebagai technopreneurship. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memainkan peran krusial dalam Membentuk Wirausahawan Muda yang tidak hanya memiliki ide inovatif, tetapi juga keterampilan teknis untuk mewujudkannya. Pendidikan vokasi memberikan hard skills yang spesifik (seperti coding, desain produk, atau teknik permesinan) yang langsung menjadi modal bisnis. Membentuk Wirausahawan Muda melalui SMK adalah strategi nasional untuk mengurangi pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi, mengubah lulusan dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.
Pilar pertama dalam Membentuk Wirausahawan Muda adalah integrasi kurikulum kewirausahaan yang aplikatif. Mata pelajaran kewirausahaan di SMK tidak bersifat teoritis; ia diwajibkan fokus pada studi kasus dan simulasi bisnis nyata. Siswa harus melalui seluruh siklus pengembangan produk, mulai dari riset pasar, pembuatan prototipe, hingga strategi pemasaran dan penjualan. Contohnya, siswa Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) diwajibkan mengembangkan satu aplikasi mobile fungsional sebagai proyek akhir kelas XII. Proyek ini wajib disajikan dalam Demo Day sekolah yang diadakan pada hari Rabu, 10 Desember 2025, di hadapan juri dari Asosiasi Pengusaha Teknologi (APT). Penilaian tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada model bisnis dan kelayakan finansial.
Strategi kedua adalah memanfaatkan Teaching Factory (Tefa) sebagai inkubator bisnis. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tefa memungkinkan siswa menjalankan bisnis nyata. Di Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), siswa menjalankan biro jasa desain dan cetak mini yang menerima pesanan dari kantor-kantor dan individu di luar sekolah. Pengalaman langsung ini mengajarkan siswa tentang manajemen arus kas, penetapan harga, dan negosiasi kontrak. Membentuk Wirausahawan Muda di Tefa memberikan mereka pemahaman langsung bahwa kualitas teknis harus sejalan dengan praktik bisnis yang etis dan profesional. Laporan keuangan Tefa yang transparan harus diaudit oleh tim guru ekonomi setiap akhir bulan.
Untuk mendukung keberlanjutan wirausaha, SMK menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan mikro dan inkubator bisnis. Siswa yang ide bisnisnya dinilai layak akan didampingi dalam mengakses modal awal atau mengikuti program percepatan bisnis. Sekolah secara rutin mengundang Konsultan UMKM (Unit Mikro, Kecil, dan Menengah) untuk memberikan mentoring spesifik setiap hari Jumat minggu keempat bulan Januari. Kemitraan ini memastikan bahwa setelah lulus, technopreneur muda ini memiliki jejaring pendukung dan pengetahuan finansial untuk mengembangkan bisnis mereka. Dengan kombinasi keterampilan teknis yang mendalam dan mindset bisnis yang tajam, SMK secara efektif Membentuk Wirausahawan Muda yang siap berkontribusi pada ekonomi digital.